Jakarta (NUSAKITA) β Sebuah momen penuh haru terjadi dalam upacara militer yang digelar untuk melepas tiga jenazah prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang menjadi korban bencana tanah longsor di Cisarua, Jawa Barat. Acara ini berlangsung di Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada hari Selasa, 3 Februari 2026, dipimpin oleh Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar), Mayor Jenderal TNI (Mar) Suherlan yang mewakili Panglima Korps Marinir, Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi.
Upacara Militer dan Pelepasan Jenazah
Ketiga prajurit yang dilepas dalam upacara militer tersebut adalah Alm. Praka Mar (Anm) Dicky Yogha Priambada, Alm. Kopda Mar (Anm) Anton Karisma, dan Pratu Mar (Anm) Burton C. Silitonga. Mereka merupakan korban tanah longsor yang terjadi pada 24 Januari 2026 di kawasan Cisarua, Jawa Barat. Jenazah ketiganya berhasil ditemukan oleh Tim SAR Gabungan pada Senin, 2 Februari, tepat sepuluh hari setelah tragedi tersebut.
Latar Belakang Tragedi Longsor di Cisarua
Bencana longsor di Cisarua termasuk salah satu bencana alam yang melanda wilayah Jawa Barat. Longsor ini terjadi akibat curah hujan yang tinggi dan kondisi tanah yang tidak stabil. TNI AL, khususnya Korps Marinir, turut serta dalam proses evakuasi dan penanganan bencana tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
Longsor ini menjadi peristiwa yang menelan korban di kalangan prajurit, mencerminkan risiko serta pengorbanan tugas kemanusiaan yang diemban oleh anggota Tentara Nasional Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai kondisi tanah longsor dapat dikaji di artikel LongsorΒ (Wikipedia).
Prosesi Keagamaan Sebelum Pemulangan Jenazah
Sebelum jenazah diberangkatkan ke kampung halaman masing-masing, mereka menjalani prosesi keagamaan di tempat persemayaman. Prosesi ini dilakukan sesuai dengan keyakinan masing-masing prajurit: jenazah Alm. Praka Mar (Anm) Dicky dan Alm. Kopda Mar (Anm) Anton mengikuti prosesi Islam, sedangkan jenazah Alm. Pratu Mar (Anm) Burton menjalani prosesi Kristen.
Penghormatan terakhir ini menjadi momen refleksi dan rangkaian ritual yang penting dalam kebudayaan Indonesia untuk menghormati jasa pahlawan bangsa. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan rasa hormat pada prajurit yang telah berkorban, sejalan dengan Korps Marinir TNI AL.
Peran Korps Marinir dalam Bencana Tanah Longsor
Korps Marinir memiliki peran vital dalam operasi kemanusiaan, termasuk penanganan bencana alam. Selain menjalankan tugas pertahanan, Korps Marinir juga aktif dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana. Dalam kasus tanah longsor Cisarua, mereka tidak hanya berperan dalam evakuasi korban, namun juga menjadi bagian dari upaya pemulihan wilayah tersebut.
Peran ini mengingatkan kita pada tulisan artikel Nusakita tentang pengabdian prajurit TNI yang kerap menjadi sorotan di publik mengenai dedikasi dalam menjalankan tugas negara di tengah berbagai tantangan.
Pentingnya Penghormatan dan Dokumentasi Sejarah Militer
Acara pelepasan jenazah secara militer adalah bagian dari tradisi penghormatan yang mendalam bagi para anggota militer yang gugur dalam tugas. Hal ini tidak hanya menunjukkan rasa hormat, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Informasi terkait tradisi militer ini dapat Anda baca lebih lanjut di laman Upacara Militer (Wikipedia).
Momen ini mengingatkan kembali kita semua terhadap pentingnya mengabadikan sejarah prajurit dan peristiwa yang membentuk bangsa. Bagi yang ingin melihat berita lain terkait TNI dan militer, kunjungi juga artikel menarik kami tentang Pasukan Elite TNI Kopassus.
Moment ini adalah pengingat kuat tentang harga pengorbanan bagi bangsa dan negara yang patut kita hormati dan dukung bersama.
Sumber: NUSAKITA, YouTube Channel resmi MERDEKA.COM






