Jakarta (NUSAKITA) β Ketua The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat), Jerome Powell, memberikan indikasi bahwa program pengetatan kebijakan moneter yang dikenal dengan quantitative tightening akan segera mencapai akhir. Sinyal ini disampaikan pada pertengahan Oktober 2025, memicu perhatian pasar keuangan global.
Kebijakan Quantitative Tightening dan Dampaknya
Quantitative tightening (QT) adalah proses pengurangan neraca keuangan bank sentral, dimana aset-aset yang sebelumnya dibeli dilepas kembali ke pasar untuk mengurangi likuiditas dan menahan laju inflasi. Kebijakan ini biasanya dilakukan setelah periode quantitative easing (QE) yang menambah likuiditas secara besar-besaran.
Kebijakan QT yang berlangsung beberapa tahun terakhir ini dimaksudkan untuk menstabilkan ekonomi dan menekan inflasi yang melonjak. Namun, sinyal dari Powell mengisyaratkan bahwa The Fed mulai mempertimbangkan untuk mengakhiri program ini, berpotensi membuka jalan bagi kebijakan moneter yang lebih longgar di masa depan.
Rekor Harga Emas Dunia Melampaui USD4.100 per Troy Ounce
Seiring dengan kabar tentang berakhirnya program QT, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru pada 15 Oktober 2025, melewati level USD4.100 per troy ounce. Harga emas spot naik sebesar 0,9% menjadi USD4.145 setelah sempat menyentuh rekor USD4.179 di awal sesi perdagangan.
Kenaikan harga emas ini didorong oleh dua faktor utama. Pertama, meningkatnya spekulasi di pasar tentang kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed dalam pertemuan Oktober 2025. Kedua, lonjakan permintaan terhadap aset-aset aman seperti emas, yang menjadi pilihan investor di tengah ketegangan dagang yang terus membayang antara Amerika Serikat dan China.
Faktor Geopolitik dan Ekonomi yang Mempengaruhi Harga Emas
Konflik dagang dan ketegangan geopolitik antara dua negara ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan China, turut memicu kebingungan pasar dan meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai (hedge). Hal ini membuat harga emas naik secara signifikan, bahkan mencatat kenaikan tahunan hingga 57% sejak awal 2025.
Tren kenaikan harga emas ini juga mengingatkan pada dinamika pasar global di tahun-tahun sebelumnya yang terkait erat dengan kebijakan moneter The Fed. Pengaruh keputusan The Fed ini sangat diperhatikan oleh para pelaku pasar dan ekonom dunia, sebagaimana pernah kami bahas dalam artikel terkait perdagangan dan pasar modal Indonesia.
Implikasi Akhir Program Pengetatan The Fed
Keputusan berakhirnya quantitative tightening berarti The Fed dapat memulai periode pelonggaran kebijakan moneter, seperti pemangkasan suku bunga acuan yang akan menurunkan biaya pinjaman dan mendorong investasi. Hal ini akan memberikan dampak langsung pada pasar keuangan global dan aset-aset pengaman seperti emas.
Namun, nilai mata uang dolar AS dan dinamika inflasi tetap menjadi faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam konteks kebijakan The Fed berikutnya. Oleh karena itu, pasar global akan tetap waspada terhadap pernyataan resmi selanjutnya dari Jerome Powell dan dewan Gubernur The Fed.
Kesimpulan
Sinyal dari Jerome Powell tentang akhir kebijakan pengetatan kuantitatif membawa angin segar sekaligus tantangan baru di pasar keuangan global. Kenaikan harga emas ke puncak tertinggi di atas USD4.100 per troy ounce mencerminkan ketidakpastian ekonomi dunia dan strategi para investor untuk melindungi aset mereka di masa mendatang.
Untuk informasi lebih luas mengenai ekonomi global dan kebijakan moneter, Anda dapat membaca artikel terkait kami di kategori Ekonomi & Keuangan.
Sumber: NUSAKITA, YouTube Channel resmi IDX Channel






