Jakarta (NUSAKITA) β Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengangkat kisah menarik mengenai komunikasi politik di era Presiden Soeharto. Dalam acara Pagelaran Wayang yang digelar di Kantor DPP Partai Golkar pada Jumat, 14 November 2025, Bahlil menyinggung peran wayang sebagai media komunikasi antara partai politik, pemerintahan, dan masyarakat.
Wayang sebagai Media Komunikasi Politik di Era Soeharto
Dalam pidatonya, Bahlil menegaskan bahwa wayang bukan hanya sebuah seni pertunjukan tradisional, melainkan juga alat strategis dalam membangun komunikasi politik yang efektif pada masa kejayaan Golkar selama kurang lebih 30 tahun. Wayang menjadi medium yang mampu menghubungkan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah serta penguatan posisi Golkar dalam dinamika politik nasional.
Signifikansi Wayang dalam Kejayaan Partai Golkar
Era Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dikenal dengan stabilitas politik dan dominasi Partai Golkar. Bahlil menyebutkan bahwa pendekatan komunikasi menggunakan wayang berhasil memperkuat hubungan antara partai, pemerintah, dan rakyat. Pendekatan ini mendukung golongan politik untuk membina citra dan mendapatkan dukungan publik yang luas.
Menurut Bahlil, pelestarian budaya seperti wayang menjadi penting untuk diwariskan kepada generasi muda dan kader partai sebagai bagian dari tradisi yang kaya akan nilai demokrasi dan kebersamaan.
Melestarikan Tradisi dan Budaya Melalui Kegiatan Politik
Bahlil juga mengungkapkan keinginannya agar tradisi wayang tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat masa kini, khususnya di kalangan pemuda dan anggota Golkar. Kegiatan seperti Pagelaran Wayang ini menjadi contoh harmonisasi antara seni budaya dan aktivitas politik.
Tradisi wayang memiliki akar budaya yang dalam di Indonesia dan secara historis telah menjadi sarana untuk pendidikan moral dan sosial. Penggunaan wayang dalam komunikasi politik menegaskan fungsi ganda budaya sebagai alat pengikat sosial dan media edukasi masyarakat.
Konteks Politik dan Budaya di Masa Kini
Pernyataan Bahlil ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam konteks politik modern. Hal ini menegaskan bahwa strategi komunikasi politik tidak harus selalu konvensional, namun dapat mengambil inspirasi dari kearifan lokal.
Partai Golkar pun dikenal dengan berbagai inisiatif pelestarian budaya, termasuk dalam laman berita terkait di Nusakita News, yang membahas kegiatan budaya ini secara lebih detail. Pendekatan ini menjadi contoh bagaimana partai politik merangkul budaya demi membangun citra positif dan mempererat kedekatan dengan masyarakat.
Untuk melengkapi konteks budaya wayang, dapat merujuk pada sumber terpercaya seperti Wikipedia yang menjelaskan sejarah dan peranan wayang dalam budaya Indonesia: Wayang (Wikipedia).
Pelajaran dari era Soeharto ini dapat menjadi refleksi sekaligus inspirasi bagaimana politik dan budaya dapat berjalan beriringan dalam menjaga harmoni sosial dan politik di Indonesia.
Sumber: NUSAKITA, YouTube Channel resmi








